Indonesia sebagai Negara kepulauan terbesar di dunia telah mengalami banyak pahit manis kehidupan bernegara. Terutama dalam hal politik dan pemerintahannya. Serangkaian peristiwa telah terjadi di Negara ini untuk mewujudkan kehidupan yang madani.
Indonesia menjalankan pemerintahan reblik presidensial multipartai yang demokratis. Seperti juga di Negara-negara demokrasi lainnya, sistem politik di Indonesia di dasarkan pada Trias Politika yaitu kekuasaaan legislative, eksekutif, dan yudikatif.
Kekuasaan legislatif di pegang oleh sebuah lembaga bernana Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang terdiri atas dua badan yaitu DPR yang anggotanya terdiri dari wakil-wakil Partai Politik dan DPD yang anggota-anggotanya mewakili Provinsi yang ada di Indonesia. Setiap daerah diwakili oleh 4 orang yang dipilih langsung oleh rakyat di daeranya masing-masing.
Sebelum hal-hal diatas ada terlebih dahulu banyak pergolakan mengenai pemerintahan di Indonesia. Hingga akhinya meledaklah pergerakan reformasi yang dilakoni oleh para mahasiswa yang melakukan unjukrasa besar-besaran dan turun ke jalan yang memaksa turunnya Presiden Suharto, lalu mengawali Indonesia baru.
Pengalaman pahit diatas menelan beberapa mahasiswa yang terjadi saat tragedi Trisakti. Para mahasiswa yang gugur kemudian di sebut sebagai Pahlawan Reformasi.
Kedewasaan bernegara mulai dapat di rasakan Indonesia setelah berlangsungnya era reformasi. Demokrasi kerakyatan mulain Nampak dan perlawah di wujudkan. Hingga pada tahun 2004, pemilu satu hari, terbesar di dunia diadakan. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tampil sebagai presiden baru Indonesia. Pemerintahan yang pertamakali langsung di pilih oleh rakyat ini pada awal masa kerjanya langsung mendapat cobaan besar seperti gempa bumi dan tsunami di Aceh dan Nias pada Desember 2004 yang meluluhlantakkan sebagian Aceh serta gempa lain di tahun 2005 yang mengguncang Sumatera.
Namun sanggupkah Indonesia menjalani kehidupan demokrasinya ini? Pertanyaan ini sering muncul dalam benak saya. Kebebasan berorganisasi berpolitik berpikir dan berbicara terkadang juga memunculkan masalah baru. Tentunya kekuasaan dalam pemerintahan menjadi rebutan para elit poitik. Bagaimana mungkin seseorang mampu menolak nikmat demokrasi yang ada di Negara besar seperti Indonesia ini. Dimana rupiah menjadi hal yang dapat diatur oleh para petinggi Negara.
Mental mata uang menjadi alas an utama mendapat kedudukan dalam Negara ini. Politik uang berjalan bagaikan pencuri berjalan santai. Dengan embel-embel uang seratus ribu rupiah banyak rakyat tertipu dengan janji-janji buta.
Bukan hanya masyarakat saja yang kerepotan dengan hal semacam ini. Tak jauh dari pengamatan kita, Pak Presiden kerepotan menghadapi kabinetnya karena takut perpecahan dalam koalisi partai. Bagaimana tidak, kebutuhan rakyat mendapat kedudukan nomor sekian di hati pemimpin negeri ini. Rupiah yang harus di keruk selama memerintah dan kekuasaan di pemerintahan harus menduduki tempat teratas di hati pemimpin negeri ini.
Sanggupkan kita menghadapi beratnya hidup berdemokrasi ini?
Kita harus menjawab sanggup!
Kita adalah generasi muda!
Kitalah generasi yang akan membinasakan para elit politik dari orde baru!
Membangun mental bangsa harus dimulai dari pembangunan karakter para generasi muda. Saat ini kita singkirkan mental tempe dan korup dari hati generasi muda. Siapalagikah yang memegang Negara ini dimasa depan selain kita. Jadi kita harus berhadapan dengan demokrasi itu sendiri. Berhadapan dengan demokrasi bukanlah hal yang mudah, kebebasan pola pikir seringkali menjadi serangan balik kepada kita.
Berhadapan dengan demokrasi sama artinya kita melawan keinginan negatif yang ada dalam diri kita. Kesanggupan mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat ada lah hal mutlak yang harus dicapai. Jangan sampai keruntuhan bernegara terjadi di Indonesia. Sepantasnya transparansi atau keterbukaan ada dalam pemerintahan negeri ini. Supaya setiap permaslahan dapat menjadi pelajaran bersama dan solusi yang di cari mari kita pikirkan bersama. Selain itu keterbukaan akan mengurangi resiko dari demokrasi itu sendiri.
Mau tidak mau kita sudah berhadapan sendiri dengan demokrasi itu sendiri. Namun bila saatnya kepemimpinan Negara ini ada di tangan kita kita haru sanggup menjalaninya.
Kejayaan negeri ini kita lah yang menentukan, kekuatan negeri ini kita yang bentuk, dan kemadanian rakyat negeri ini kelak kita yang bangun bersama.
Jadi mari kita persiapkan mental karakter dan hati kita masing-masing sebagai pemegang Negara ini beberapa tahun yang akan dating.
Oleh :Iwan F. Simarmata
SMAn 4 Pematangsiantar